CERITA RAKYAT

Tane Mela

Di Gorontalo terdapat sebuah kecamatan yang namanya Kecamatan Botudaa (Batudaa). Botudaa terdiri dari dua kata, Botu yang artinya Batu, dan Daa yg artinya Besar. Jadi, Botudaa artinya Batu yang Besar.
Pada zaman dulu, ada seorang wanita tua bernama Sulthanul Aulia Nenek Tane Mela. Beliau lahir di Mekkah pada tanggal 9 Rajab 699 H / 1300 M. Pekerjaannya berdakwah menyebarkan agama Islam di Gorontalo. Beliau merupakan Radhiallahu Anha. Masuk kelompok sahabat dekat Rasulullah s.a.w. Dan karena dapat rahmat dari Allah swt, maka beliau diangkat menjadi pemimpin para Aulia tanpa mau dipublikasikan.
Ada sebuah batu besar yang merupakan tempat duduknya Nenek Tane Mela saat dzikir. Batu tersebut besar sekali ke bawah tanah. Batu ini nongol agak tinggi ke atas karena mau ikut dengan Nenek saat mau haji.
Setelah haji, Beliau kembali lagi untuk menyebarkan agama Islam di Gorontalo. Beliau wafat pada hari jum’at tanggal 17 Ramadhan 835 H / 1432 M dengan usia 132 tahun. Dan dikebumikan disamping batu besar yang merupakan tempat duduknya saat dzikir.
Pada saat beliau wafat, masyarakat ingin memindahkan batu itu ke lapangan terbuka dengan tujuan agar seluruh masyarakat bisa melihatnya.
Para masyarakat dengan menggunakan berbagai macam alat untuk mencoba memindahkan batu itu. Akan tetapi batu itu tidak bisa diangkat dan tidak bergerak sedikitpun. Mereka sangat berusaha keras untuk memindahkan batu itu, namun tetap saja tidak dapat digerakkan.
Sampai pada akhirnya mereka pun menyerah. Mereka tidak ingin lagi memindahkan batu itu. Namun masyarakat tidak membiarkannya begitu saja. Mereka terus merawat Monument itu.
Sekarang Monument tersebut telah dibuat lebih indah dan di atas Makam Tane Mela telah didirikan Musholah.


Sejarah Singkat Malam Qunut
Konon pasangan kacang dan pisang (kaca wau lutu) ini mengandung filosofi yang kuat untuk peradaban di Gorontalo. Kacang dan pisang selalu menjadi makanan pavorit bagi kaum muda di Gorontalo khususnya di Batudaa untuk ritual mendatangi calon mertua dan mengajak anak gadisnya, untuk sekedar bercengkrama di depan rumah sembari ditemani calon mertua. Tradisi ini menjadi unggulan parawisata di Batudaa, terutama dalam bulan Ramadhan. Selama malam bulan Ramadhan, masyarakat Muslim di Batudaa sedikitnya melaksanakan dua ritual, yaitu Malam Qunut dan Malam Tumbilotohe.